ADITIARAHARGIAN.COM

The Words of Life

Average Down Dan Average Up, Jangan Beli Saham Full Modal!

Average Down dan Average Up
Jangan Beli Saham Full Modal!

Average Down Dan Average Up, Jangan Beli Saham Full Modal

Teruntuk pemula yang belum lama ikut meramaikan pasar modal Indonesia, harus lebih bersabar ya, karena memang proses yang harus kamu lalui tentunya masih sangat panjang. Masih banyak hal yang harus kamu pelajari dan pahami, mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling sulit sekalipun. Termasuk bagaimana kita akan memperlakukan modal investasi kita, tentunya agar bisa memberikan return yang bagus.

Seorang investor pemula sering dikaitkan dengan keterbatasan modal yang akan mereka investasikan dan seringkali pemula membelanjakan habis modalnya untuk berbelanja saham dalam sekali order, hal ini sangat sering dijumpai di kalangan investor pemula dengan istilah “beli saham all in”. Ujung-ujungnya mereka mengalami floating loss (nyangkut) di posisi harga beli saham yang tinggi tanpa bisa berbuat apa-apa lagi, kecuali cutloss (menjual rugi) atau menunggu dalam jangka waktu yang mungkin sangat lama hingga harga saham kembali naik.

Padahal, jika ketika itu mereka tidak full modal, masih ada yang bisa kita lakukan dari sisa modal yang ada. Nah, sisa modal kita bisa digunakan untuk Averaging Down maupun Averaging Up. Average Down & Average UP ini wajib kamu pahami terlebih dahulu ketika kamu mulai berinvestasi saham ya. Lalu apa sih sebenarnya Average Down dan Average Up itu? Langsung saja kita simak ya.

Average Down Dan Average Up, Jangan Beli Saham Full Modal

Average Down

Average Down yaitu menambah jumlah lembar saham di harga yang lebih rendah, artinya kita membeli lagi lembar saham ketika harga saham turun, sehingga harga beli kita (semula) akan dirata-rata dengan harga beli terbaru. Misal, kita membeli saham emiten ABCD dengan harga per lembar Rp 1000,- sejumlah 1 lot, ternyata setelah beberapa waktu harga sahamnya justru anjlok ke angka Rp 500,-, kemudian kita membeli lagi dengan jumlah lot yang sama di harga Rp 500,-. Maka, Average Price kita menjadi Rp 750,- dengan jumlah 2 lot. Perhitungan rata-rata ini sudah otomatis dikalkulasikan oleh sekuritas yang kamu gunakan ya, jadi tidak perlu bingung jika jumlah lot tidak sama, dan harga tidak bulat. Namun perlu diingat, Averaging Down juga tidak bisa sembarang kamu terapkan ya, tentunya kamu harus mengerti teknikal analisis untuk menemukan area support, yang artinya harga saham sudah berada di harga paling bawah yang berpotensi akan dipantulkan di area support. Mengapa? Karena percuma jika kita melakukan Averaging Down ketika ternyata harga sahamnya masih berpotensi turun. Sederhananya kita mencari titik maksimal penurunan harga saham, disitulah kita melakukan Averaging Down.

Average UP

Sedangkan untuk Average Up, merupakan kebalikan dari Average Down, yaitu kita menambah jumlah lembar saham atau membeli saham lagi ketika harganya naik. Karena kita membeli lagi di harga yang lebih tinggi, otomatis Average Price kita akan naik ya, jadi hati-hati, pastikan kita melakukan Averaging UP hanya ketika harga saham benar-benar dalam trend bullish atau naik dan dalam sentimen pasar yang bagus. Jangan sampai nih, kita melakukan Averaging Up dan Average Price kita sudah naik, namun harga saham justru kemudian mengalami penurunan atau anjlok.

Jadi, dalam melakukan Averaging Down maupun Averaging Up kita tetap harus memperhatikan pasar dari sisi teknikal maupun fundamental ya, sehingga hasilnya bisa maksimal, yang artinya kita akan mendapatkan Average Price terbaik yang nantinya mampu memberikan return yang maksimal.

Itulah sebabnya, kita perlu menyiasati modal investasi yang kita miliki ketika berinvestasi saham, apalagi untuk pemula wajib hukumnya untuk tidak membelanjakannya full modal. Konsepnya adalah, agar kita memiliki sisa modal untuk berjaga-jaga dan bisa kita gunakan untuk memperbaiki portofolio. Tentunya beda cerita jika kamu tergolong investor profesional dan agresif, yang sudah memiliki strategi sendiri yang memang terbukti bisa memberikan keuntungan.

Di beberapa sekuritas sudah tersemat fitur persentase pembelanjaan modal kita yang ada di saldo RDN, seperti di Ajaib Sekuritas, salah satu sekuritas kekinian yang sangat cocok digunakan untuk para investor pemula. Artinya, Ajaib Sekuritas sendiri secara tidak langsung mengajarkan usernya untuk tidak berbelanja full modal dengan adanya fitur persentase pembelanjaan modal dihalaman order.

Average Down Dan Average Up, Jangan Beli Saham Full Modal

Di halaman order saham Ajaib Sekuritas, kamu bisa langsung mengisi jumlah lot yang akan kamu beli, atau memilih persentase dari modal yang ada di saldo RDN kamu, 25%, 50%, 75%, atau 100%. Nantinya jumlah lot akan otomatis menyesuaikan. Sebagai informasi, Ajaib Sekuritas ini merupakan sekuritas kekinian yang cocok untuk pemula karena memiliki tampilan antarmuka (user interface) yang bagus namun sederhana dan mudah dipahami.

Average Down dan Average Up ini berbeda dengan Dollar Cost Averaging (DCA). DCA merupakan strategi tersendiri untuk situasi dan kondisi yang berbeda. Seperti apa penjelasan mengenai DCA ini akan ada di next konten ya, strategi DCA ini juga cukup bagus untuk diterapkan oleh mereka yang ingin berinvestasi saham namun memiliki penghasilan atau gaji yang minim, dan menjadi strategi yang dianjurkan oleh bapak investasi dunia Waren Buffett.

Nah, sekarang kamu sudah tau kan apa itu Average Down dan Average Up? Jangan beli saham full modal ya, untuk memastikan kamu tetap bisa berbuat sesuatu ketika harga saham bergerak diluar analisa dan perkiraanmu, bagi pemula ini sangat penting untuk diterapkan apalagi ketika berada di posisi floating loss yang cukup dalam, namun sebenarnya saham perusahaanya bagus dan memiliki potensi memberikan keuntungan yang bagus dalam jangka panjang.

Saham Gratis Ajaib Sekuritas

Mengenal Saham Blue Chip, Saham Rekomendasi Untuk Pemula

Mengenal Saham Blue Chip
Saham Rekomendasi Untuk Pemula

Sebagai seorang investor saham pemula, pastinya kita tidak begitu saja bisa membeli saham dengan mudah. Artinya kita akan dihadapkan pada situasi tertentu yang bisa menjadi rumit, seperti “mau beli saham apa ya?”, “Perusahaan ini bagus enggak ya? pengen beli sahamnya nih”, dan keraguan-keraguan lain ketika memilih emiten atau perusahaan yang akan menjadi tujuan untuk kita menanamkan modal. Apakah nantinya langkah yang kita ambil tepat dan mampu memberikan keuntungan untuk kita?

Mengenal Saham Blue Chip Saham Rekomendasi Untuk Investor Pemula

Ketika ingin berinvestasi saham, tentunya kita tidak boleh arogan. Minimal, fundamental harus sudah kita kantongi, dan kita tau bahwa sebuah perusahaan sudah jelas bagus dan mustahil akan bangkrut dalam waktu dekat, dengan melihat data-data yang ada. Dengan begitu, kita lebih memiliki kans besar untuk mendapatkan keuntungan jika membeli sahamnya, hanya masalah waktu saja. Itulah pentingnya fundamental dan mindset jangka panjang menjadi prioritas utama ketika kamu mulai berinvestasi saham.

Hati-hati dalam membeli saham perusahaan, hindari membeli saham sembarangan atau tanpa perhitungan dan analisa sama sekali apalagi hanya berdasarkan kata orang atau ikut-ikutan ingin cuan, hingga terjebak di saham-saham gorengan (saham yang telah diolah pihak-pihak tertentu, agar sahamnya ramai dan banyak yang tertarik membelinya sehingga harga bergerak sesuai dengan keinginan). Untuk investor ritel pemula, tentunya harus mempelajari dan mengerti terlebih dahulu seluk beluk pasar modal dan masuk ke perusahaan yang bagus atau unggulan untuk mengawalinya, ini penting agar pemula, kalau secara bahasa gaulnya tidak “kena mental” ketika mulai berinvestasi saham.

Kaitannya dengan saham perusahaan, sebenarnya ada beberapa perusahaan yang cocok untuk investor ritel pemula dengan profil resiko yang rendah hingga menengah. Ini yang kemudian kita lengkapi dengan penguasaan pedoman-pedoman lain seperti analisis teknikal, money management, hingga psikologi dalam berinvestasi, dan menjadi sebuah paket yang tepat untuk lebih meminimalisir resiko kerugian.

Ada beberapa jenis saham yang wajib kamu tau terlebih dahulu, sebagai gambaran untuk kamu agar bisa menentukan langkahmu selanjutnya, kemanakah dana kamu akan kamu investasikan dalam bentuk lembaran saham? Salah satu jenis saham ini merupakan saham rekomendasi untuk pemula yang ingin masuk untuk pertama kalinya, di investasi saham.

Pada dasarnya, jenis saham di bagi menjadi 3 kategori, yaitu saham lapis satu (first liner), saham lapis dua (second liner), dan saham lapis tiga (third liner), pengkategorian tersebut didasarkan pada besaran nilai kapitaisasi pasar (market cap). Di antara ketiga jenis saham tersebut, saham lapis satu adalah saham yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar yaitu di atas 10 Triliun. Nah, di sini saya hanya akan membahas saham first liner saja ya, karena saham lapis satu inilah yang tidak lain adalah Saham Blue Chip, atau saham unggulan yang tentunya menjadi rekomendasi saham terbaik untuk pemula dalam memulai investasinya di pasar modal.

Saham Gratis Ajaib Sekuritas

Secara bahasa yang sederhana, Saham Blue Chip adalah saham unggulan dari perusahaan yang bagus dan sehat, dimana perusahaan selalu mencatat keuntungan yang bagus dan cederung stabil atau memiliki kondisi keuangan yang baik. Produk atau jasa di sektor industrinya, sudah sejak lama diterima oleh masyarakat umum dalam skala nasional. Dengan kata lain merupakan perusahaan besar dan biasanya familiar (walau tidak semua) di telinga kita dan hadir dalam kehidupan kita sehari-hari karena memang produk atau jasanya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat secara luas. Emiten Blue Chip juga sudah cukup lama melantai di bursa, setidaknya lebih dari 5 tahun ikut meramaikan pasar modal di Indonesia.

Istilah Blue Chip sendiri pertama kali digunakan di Amerika Serikat, mengadopsi dari permainan Poker, dimana chip berwarna biru memiliki nilai yang paling tinggi dibandingkan dengan chip berwarna lain. Maka untuk menggambarkan saham perusahaan dengan nilai yang paling baik, digunakanlah istilah Blue Chip.

Saham Blue Chip dianggap sebagai saham perusahaan yang paling aman dan cenderung lebih menguntungkan dibandingkan dengan saham lapis dua dan tiga. Perusahaan juga rajin membagikan dividen (bagi hasil keuntungan perusahaan) kepada para pemegang sahamnya dengan nilai dividen yang cukup besar. Sehingga Saham Blue Chip ini merupakan saham unggulan yang cocok bagi pemula yang ingin memulai berinvestasi saham, dengan memilih Saham Blue Chip, setidaknya kemungkinan untuk mengalami kerugian lebih kecil jika dibandingkan dengan saham lapis dua maupun lapis tiga dan bukan tidak mungkin, dalam jangka panjang justru memberikan return yang bagus.

Saham Blue Chip, sekali lagi, merupakan saham yang cocok bagi pemula yang ingin masuk untuk pertama kalinya di investasi saham atau untuk pertama kalinya ingin membeli saham perusahaan, dengan harapan investasi yang dilakukan oleh para pemula masuk ke dalam zona yang lebih aman.

Saham Blue Chip Bank BCA

Nah, jika saat ini kamu memiliki modal atau uang dingin yang ingin kamu investasikan, katakanlah Rp 15.000.000,-, belilah saham blue chip secara bertahap, artinya kamu jangan langsung membelinya full modal, saya contohkan kamu mengalokasikan Rp 3.000.000,- terlebih dahulu untuk pembelian pertama, agar kamu punya sisa modal untuk antisipasi ketika harga saham turun atau anjlok kamu bisa melakukan averaging dengan membeli kembali saat harga lebih rendah dengan sisa modal yang ada, sehingga rata-rata harga belinya menjadi bagus.

Harga saham tentunya naik turun, tidak ada saham yang harganya naik terus atau turun terus menerus, saham blue chip pun tetap bisa turun atau anjlok, akan tetapi saham blue chip juga merupakan saham yang paling cepat untuk naik kembali. Saham blue chip juga lebih tahan banting ketika terjadi krisis ekonomi dan semacamnya, dan mampu untuk segera pulih setelah lewat masa krisis.

Karena memiliki kapitalisasi pasar yang besar, saham blue chip juga menjadi penggerak utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Indeks LQ45, dengan kata lain pergerakan IHSG besar dipengaruhi oleh Saham Blue Chip. Contoh Saham Blue Chip atau beberapa emiten yang masuk kategori Saham Blue Chip antara lain :

  • PT. Bank Central Asia Tbk – (BBCA)
  • PT. Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk – (BBRI)
  • PT. Bank Mandiri Persero Tbk – (BMRI)
  • PT. Bank Negara Indonesia Persero Tbk – (BBNI)
  • PT. Gudang Garam Tbk – (GGRM)
  • PT. HM Sampoerna Tbk – (HMSP)
  • PT. Unilever Indonesia Tbk – (UNVR)
  • PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk – (ICBP)
  • PT. Telkom Indonesia Persero Tbk – (TLKM)
  • PT. Aneka Tambang Tbk – (ANTM)
  • PT. Perusahaan Gas Negara Tbk – (PGAS)
  • PT. Astra International Tbk – (ASII)

Dan masih ada beberapa perusahaan lainnya yang masuk dalam daftar kategori Saham Blue Chip yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Saham Blue Chip juga konsisten menghuni Indeks LQ45, apa itu Indeks LQ45? Akan ada pembahasannya juga di artikel lain ya. Untuk saham Blue Chip ini cocok jika kamu ingin menerapkan Dollar Cost Averaging ketika memulai investasi saham.

Jadi bagaimana? Sudah belajar investasi saham dan siap membeli saham untuk pertama kalinya? Jika belum menguasai seluk beluk pasar modal bisa mulai belajar terlebih dahulu sedikit demi sedikit, kamu bisa masuk ke laman belajar investasi saham untuk pemula yang bisa kamu akses melalui link di bawah ini, kamu akan belajar memahami investasi saham secara urut dari pembahasan paling sederhana terlebih dahulu dengan bahasa yang juga lebih sederhana. Karena sifatnya kita belajar bersama, kamu juga bisa kok memberikan masukan melalui tombol whatsapp yang ada di pojok kanan bawah, sebagai bentuk interaksi dan bertukar pikiran.

Belajar Investasi Saham Untuk Pemula

Apa Itu Perusahaan Sekuritas Dalam Investasi Saham?

APA ITU PERUSAHAAN SEKURITAS
DALAM INVESTASI SAHAM?

Sudah tau apa itu saham? Bagi yang belum tau, bisa cek artikel sebelumnya melalui link pada gambar di bawah ini ya. Bagi yang sudah mengerti atau memahami definisi saham, selanjutnya pasti akan mengenal istilah perusahaan sekuritas, yang memiliki peran penting dalam investasi saham.

Apa Itu Saham?

Ya, kamu wajib tau apa itu perusahaan sekuritas dalam investasi saham, karena perusahaan sekuritas merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari yang namanya investasi saham karena jasanya sebagai perantara atau yang menjembatani transaksi saham antara kita dengan pasar modal (Bursa Efek).

Menurut laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perusahaan sekuritas adalah pihak yang telah mendapatkan izin dari OJK untuk melakukan kegiatan usaha sebagai perantara pedagang efek (Broker-Dealer).

Ketika kita ingin membeli saham sebuah perusahaan, kita terlebih dahulu harus memiliki akun atau Rekening Dana Investor (RDI) atau ada juga yang menyebutnya Rekening Dana Nasabah (RDN) di perusahaan sekuritas, lalu kita bisa melakukan transaksi atau membeli saham melalui perusahaan sekuritas yang kita pilih.

Apa Itu Perusahaan Sekuritas Dalam Investasi Saham

Sebagai perantara yang mempermudah kita untuk bisa membeli saham, tentunya perusahaan sekuritas menerapkan biaya layanan atau fee sebagai sumber pemasukan mereka yang besarannya berbeda-beda untuk setiap sekuritas. Fee yang dikenakan ke investor berlaku ketika membeli maupun menjual saham. Jika belum ada perubahan, fee beli berkisar antara 0,15% hingga 0,19% dari total transaksi, sedangkan fee jual berkisar antara 0.25% hingga 0,29% dari total transaksi.

Saat ini ada banyak perusahaan sekuritas yang sudah terdaftar di OJK. Beberapa diantaranya yang cukup ternama adalah Mirae Asset Sekuritas, BCA Sekuritas, MNC Sekuritas, Mandiri Sekuritas, BNI Sekuritas, dan masih banyak lagi perusahaan sekuritas yang bisa kamu pilih.

Selain itu, ada Ajaib Sekuritas yang baru-baru ini mengukuhkan diri sebagai Unicorn Fintech pertama di asia dan telah merayakan 1 juta investor (penggunanya). Ajaib Sekuritas mampu menarik minat investor baru untuk memilih platformnya sebagai wadah berinvestasi yang kekinian dan mudah namun tetap aman dan sesuai standart dan regulasi dari lembaga pengawas berwenang.

Bingung memilih sekuritas?

Tidak usah bingung ketika kamu memilih sekuritas, pada dasarnya semua sekuritas memiliki fungsi yang sama. Yang membedakan hanya syarat mendaftar, minimal deposit, dan fee transaksinya, yang bisa disesuaikan dengan kondisi kamu. Yang terpenting, sekuritas yang kamu pilih sudah terdaftar di OJK. Untuk melihat daftar perusahaan sekuritas yang telah terdaftar di OJK bisa kamu cek di laman OJK berikut ini (pilih data dengan tanggal yang terbaru).

DATA PERUSAHAAN EFEK (OJK)

Namun jika kamu masih belum ada gambaran dalam memilih sekuritas, kamu bisa memilih sekuritas yang paling cocok untuk pemula seperti Ajaib Sekuritas, salah satu sekuritas berbasis digital yang saat ini banyak diminati investor ritel (pemula) dengan proses administrasi RDN yang full online dan mudah, cukup dari aplikasi (Android/iOS). Didukung dengan interface yang kekinian namun tetap sederhana dan simpel untuk digunakan, sehingga investor baru tidak akan kesulitan ketika menjalankan kegiatan investasinya.

Jika nantinya kamu ingin membuka RDN di sekuritas lainnya, tidak masalah, karena seseorang bisa saja menggunakan lebih dari satu perusahaan sekuritas, saya sendiri selain menggunakan Mandiri Sekuritas, saat ini juga memiliki RDN di Ajaib Sekuritas dan keduanya aktif untuk berinvestasi saham.

Kesimpulannya, dengan kalimat sederhana, Perusahaan Sekuritas merupakan perantara yang menjembatani transaksi jual beli saham antara investor dengan pasar modal. Ya, harus lewat sekuritas, tanpa sekuritas kamu tidak akan bisa bertransaksi jual beli saham, jadi pastikan kamu sudah memiliki RDN di Perusahaan Sekuritas ketika ingin berinvestasi saham ya. Yuk tentuin sekarang juga sekuritas pilihanmu!

Saham Gratis Ajaib Sekuritas

Ada yang ingin ditanyakan?