ADITIARAHARGIAN.COM

The Words of Life

1 Lot (100 Lembar Saham) Minimal Pembelian Lembar Saham

1 LOT (100 LEMBAR SAHAM)
MINIMAL PEMBELIAN LEMBAR SAHAM

Dalam benak dan pikiran seseorang yang sedang tertarik dengan investasi saham, pasti akan timbul banyak pertanyaan, salah satunya adalah, “berapa jumlah lembar saham yang bisa kita beli?” Hmmm, ini mungkin terdengar receh dan sepele, namun bagi saya tetap harus diuraikan, karena sebenarnya tidak ada hal sepele untuk mereka yang baru memulai dan tentunya isi otaknya dipenuhi dengan banyak pertanyaan, yang paling sepele sekalipun.

1 LOT (100 LEMBAR SAHAM) MINIMAL PEMBELIAN LEMBAR SAHAM

Kamu yang nyasar ke laman ini, mungkin adalah salah satu orang yang juga bertanya-tanya, berapa sih jumlah lembar saham yang bisa kita beli? Minimal Berapa lembar? Apakah ada maksimal berapa lembar yang bisa kita beli? Seperti biasa, saya tidak akan berlama-lama, jadi langsung saja ke penjelasan sederhananya berikut ini.

1 Lot = 100 Lembar Saham

Sebenarnya, kelipatan yang berlaku dalam jual beli saham menggunakan satuan lot, bukan lembar. Berdasarkan aturan Bursa Efek Indonesia (BEI) jumlah minimal saham yang bisa kita beli adalah 1 lot dan 1 lot setara dengan 100 lembar saham. Jika ingin membeli 2 lot saham bisa tidak? Ya, tentu saja bisa, jika kamu ingin membeli 2 lot saham artinya kamu akan memiliki 200 lembar saham, jika kamu ingin membeli 10 lot saham berarti kamu akan memiliki 1000 lembar saham, membeli 100 lot kamu akan memiliki 10.000 lembar saham, dan begitu seterusnya, satuan lot lah kelipatannya. Catat ya, 1 lot = 100 lembar saham, itulah batas minimal pembelian lembar saham yang bisa kamu beli.

Apakah bisa kita membeli kurang dari 1 lot (100 lembar)? Sebenarnya bisa, hanya saja kita harus melalui mekanisme tertentu dengan bantuan Perusahaan Sekuritas, untuk masuk ke pasar saham negosiasi. Namun sebenarnya, 1 lot sudah termasuk jumlah yang sangat kecil, bahkan untuk investor pemula sekalipun, dan tentunya kita juga menginginkan jumlah lembar saham yang semakin banyak ketika berinvestasi saham. Jadi untuk pemula sekalipun, sepertinya tidak perlu masukĀ  pasar saham negosiasi hanya untuk bisa membeli saham kurang dari 1 lot.

Tapi emiten XXXX harga per lembar sahamnya mahal, apa yang harus saya lakukan?

Perusahaan yang ada di bursa itu jumlahnya sangat banyak, sampai malas rasanya kalau mau menghitung semuanya. Jika memang emiten yang kamu incar harga per lembar sahamnya sangat tinggi, tidak ada salahnya kamu alihkan ke emiten lain yang memiliki harga per lembar saham lebih murah, saya yakin ada alternatif emiten lain yang secara fundamental bagus dan perusahaannya juga sehat, dengan harga per lembar yang terjangkau. Saham Blue Chip saja saat ini ada banyak pilihan untuk bisa kamu analisa dan pilih. Jadi, kamu tidak harus terpaku di satu emiten saja, sampai harus membeli di bawah 1 lot, sembari kamu juga terus mengasah kemampuan analisa fundamental di banyak emiten.

Saya tetap mau beli saham emiten XXXX setengah lot!

Baik, jika begitu, silahkan kamu bisa meminta bantuan Perusahaan Sekuritas yang kamu gunakan saat ini, untuk bisa masuk ke pasar saham negosiasi. Soal pasar saham negosiasi ini belum akan saya ulas dalam waktu dekat ya, jadi informasinya tentang itu bisa kamu cari sendiri di lua sana. Lanjut ya.

Jika minimal pembelian saham adalah 1 lot (100 lembar), apakah ada batas maksimal pembelian saham? Untuk maksimal jumlah lot yang bisa dibeli dalam sekali order, sebenarnya disesuaikan saja dengan modal yang akan kamu investasikan. Untuk investor pemula tentunya tidak perlu langsung membeli saham dengan jumlah lot yang banyak. Dengan kata lain, kamu tidak perlu pusing memikirkanĀ batas maksimal lot yang bisa kamu beli, karena tentunya modal awal pemula mungkin tidak perlu sampai menyentuh jumlah lot yang banyak dalam sekali order. Selain itu jumlah lot yang bisa kita dapatkan di posisi harga saham tertentu juga sangat tergantung dengan kondisi Order Book, khususnya di posisi offer/ask (jumlah lot yang tersedia untuk ditawarkan).

Yang tidak kalah penting dan perlu diingat, meski satuan belinya adalah per lot, harga saham suatu perusahaan yang tertera secara realtime adalah harga untuk 1 lembar saham ya, jadi bukan harga saham per lot. Jika kamu membeli saham 1 lot artinya, harga per lembar yang tertera pada saat itu akan dikalikan 100, itulah biaya yang kamu butuhkan untuk bisa membeli saham suatu perusahaan alias modal untuk bisa mendapatkan 1 lot saham suatu perusahaan.

Saham Gratis Ajaib Sekuritas

100 Ribu Bisa Beli Saham?

Lalu, sebenarnya berapa sih modal yang kita butuhkan untuk bisa membeli saham minimal 1 lot? Jika kamu pernah melihat iklan atau apapun yang mengatakan, investasi saham modal kecil, mulai dari Rp 100.000,-, apakah memang benar dengan modal Rp 100.000,- kita bisa membeli saham?

Oh, 100 ribu ya? Mau beli saham? Tentu bisa dan tentu tidak bisa. “Loh kok begitu? Jadi sebenarnya bisa enggak nih?” Hehehe jawaban dan penjelasannya ada di artikel nomor #6 ya, atau kamu bisa klik gambar di bawah ini untuk langsung menuju ke artikel lanjutannya.

100 Ribu Bisa Beli Saham?

Risiko Dalam Investasi Saham Yang Wajib Kamu Pertimbangkan

Risiko Dalam Investasi Saham
Yang Harus Kamu Pertimbangkan

Risiko Dalam Investasi Saham Yang Wajib Kamu Pertimbangkan

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi saham, ada beberapa risiko investasi saham yang wajib kamu pertimbangkan terlebih dahulu. Namanya investasi saham, tentunya selain berpotensi memberikan keuntungan, juga memiliki risiko kerugian yang harus kita sadari.

Tidak ada investasi yang tidak memiliki resiko, dan jika kamu menemukan ajakan investasi yang tidak memiliki resiko, justru kamu wajib waspada dan berhati-hati karena ada kecenderungan ajakan tersebut adalah investasi bodong atau abal-abal. Ya, resiko memang sudah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari dunia investasi, tak terkecuali di investasi saham. Hanya saja, ketika kita memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup dan bagus, maka akan meminimalisir risiko kerugian.

Untung dan rugi adalah hal yang wajar ketika berinvestasi, khususnya saham. Jika tidak ada risiko kerugian tentunya semua orang bisa kaya dengan berinvestasi. Nah, berikut ini ada beberapa risiko dalam berinvestasi saham yang wajib kamu sadari, pahami, dan kamu pertimbangkan sebelum memutuskan untuk terjun di investasi saham. Apa saja risikonya?

Saham Gratis Ajaib Sekuritas

Capital Loss

Capital loss dalam investasi saham merupakan kerugian karena harga jual per lembar saham yang lebih rendah dari harga belinya. Misal kamu membeli saham ABCD dengan harga per lembar Rp 2000,-, setelah beberapa waktu ternyata harganya turun menjadi Rp 1500,- per lembar, maka kamu mengalami Capital Loss Rp 500,- per lembar saham. Statusnya masih kerugian mengambang (floating loss) jika kamu belum menjual saham kamu, namun ketika kamu menjualnya, maka akan menjadi kerugian pasti (realized loss).

Suspensi

Suspensi sendiri merupakan kondisi dimana diberhentikannya perdagangan suatu saham dari emiten tertentu untuk alasan tertentu, seperti salah satunya pergerakan harga yang tidak wajar. Suspensi ini bisa berlangasung tidak lama (hitungan hari), namun juga bisa lama (hitungan bulan bahkan tahun) tergantung dari seberapa berat pelanggaran emiten. Perlu diingat, selama masa suspensi ini kita tidak akan bisa membeli maupun menjual sahamnya.

Delisting

Delisting merupakan kondisi dimana suatu saham emiten tertentu tidak dapat diperdagangkan lagi karena perusahaan sudah tidak tercatat atau ada penghapusan emiten atau perusahaan di bursa secara resmi. Ada 2 jenis Delisting, yaitu Delisting secara sukarela (Voluntary Delisting) dan Delisting secara paksa (Forced Delisting). Pastikan ketika kita ingin membeli saham, emiten atau perusahaannya bagus dan jauh dari isu dan potensi Delisting ya, karena tentunya kita akan merugi ketika sudah membeli sahamnya ternyata perusahaan itu justru dihapus dari pasar modal.

Emiten Pailit

Perusahaan telah dinyatakan bangkrut karena tidak bisa melunasi hutang. Jika sudah mengarah ke pailit, suatu emiten biasanya akan bertahap hinggap ke level suspensi dan bahkan kemudian Forced Delisting oleh bursa. Hingga dipastikan bangkrut, sesuai dengan aturan pencatatan saham bursa efek, pemegang saham mendapatkan prioritas terakhir atas hak klaim, setelah perusahaan melunasi kewajibannya kepada kreditur terlebih dahulu. Pailit ini salah satu momok yang cukup menakutkan di investasi saham, pertimbangkan untuk segera menjual saham yang kamu miliki jika ada kecenderungan emiten mengalami kesulitan keuangan. Contoh emiten berpotensi pailit seperti PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA).

Saham Tidur

Saham bisa tidur? Ya, saham juga bisa tidur atau harga tidak bergerak sama sekali. Kondisi ini terjadi karena saham tidak aktif diperdagangkan dalam waktu yang lama sehingga harganya tidak bergerak. Saham tidur biasanya berada di level harga Rp 50,- per lembar saham atau istilah gaulnya di dunia investasi saham adalah “Saham Gocap”. Suatu saham emiten menjadi tidak aktif diperdagangkan karena biasanya bukan merupakan saham unggulan, dengan market cap yang kecil dan masuk kategori saham lapis tiga, sehingga tidak banyak investor yang tertarik. Ketika harga “Saham Gocap” mulai bergerak pun besar kemungkinan dipengaruhi oleh bandar, biasanya pergerakannya akan tiba-tiba naik signifikan dan setelah bandar keluar harga saham akan kembali merosot tajam hingga ke level Rp 50,- dan melanjutkan tidur panjangnya. Maka, bagi investor khususnya yang berorientasi jangka panjang, Saham Gocap sangat-sangat tidak menarik dan menjadi tidak aktif diperdagangkan.

Belajar Investasi Saham Untuk Pemula

Nah, beberapa risiko diatas sangat penting untuk kamu sadari dan pahami sebelum berinvestasi saham sehingga kamu tau apa saja kemungkinan yang akan dan bisa terjadi ketika kamu berinvestasi saham. Dengan begitu kamu bisa lebih berhati-hati dalam memilih saham dan terus membekali diri dengan pengetahuan penting terkait investasi saham. Kamu tidak bisa berinvestasi saham dengan mengesampingkan beberapa risiko tersebut ya.

Pemahaman yang luas tentang seluk beluk pasar modal bisa menjadi bekal kamu untuk meminimalisir risiko. Saham tentunya merupakan produk investasi yang memiliki risiko, maka sangat penting untuk kamu mempelajarinya terlebih dahulu sebelum memulai, ketika sudah mempelajarinya dengan matang kamu bisa memulai dan Do Your Own Risk. Pastikan kita berinvestasi dengan modal atau dana di luar kebutuhan pokok bahkan di luar dana tak terduga.

Jadi, sudah sejauh mana kamu belajar investasi saham? Jika kamu masuk ke konten ini melalui jalur search engine, dan mungkin masih sangat awam di dunia investasi saham, kamu bisa menuju laman belajar investasi saham untuk pemula (gratis), agar kamu bisa belajar secara urut, bisa kamu klik link ini ; Belajar Investasi Saham Untuk Pemula, atau bisa klik gambar di atas ya. Untuk materi selanjutnya kita akan membahas mengenai lot saham yang bisa kamu akses langsung artikel/kontennya dengan klik gambar di bawah ini. Selamat belajar!

1 LOT (100 LEMBAR SAHAM) MINIMAL PEMBELIAN LEMBAR SAHAM

Average Down Dan Average Up, Jangan Beli Saham Full Modal!

Average Down dan Average Up
Jangan Beli Saham Full Modal!

Average Down Dan Average Up, Jangan Beli Saham Full Modal

Teruntuk pemula yang belum lama ikut meramaikan pasar modal Indonesia, harus lebih bersabar ya, karena memang proses yang harus kamu lalui tentunya masih sangat panjang. Masih banyak hal yang harus kamu pelajari dan pahami, mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling sulit sekalipun. Termasuk bagaimana kita akan memperlakukan modal investasi kita, tentunya agar bisa memberikan return yang bagus.

Seorang investor pemula sering dikaitkan dengan keterbatasan modal yang akan mereka investasikan dan seringkali pemula membelanjakan habis modalnya untuk berbelanja saham dalam sekali order, hal ini sangat sering dijumpai di kalangan investor pemula dengan istilah “beli saham all in”. Ujung-ujungnya mereka mengalami floating loss (nyangkut) di posisi harga beli saham yang tinggi tanpa bisa berbuat apa-apa lagi, kecuali cutloss (menjual rugi) atau menunggu dalam jangka waktu yang mungkin sangat lama hingga harga saham kembali naik.

Padahal, jika ketika itu mereka tidak full modal, masih ada yang bisa kita lakukan dari sisa modal yang ada. Nah, sisa modal kita bisa digunakan untuk Averaging Down maupun Averaging Up. Average Down & Average UP ini wajib kamu pahami terlebih dahulu ketika kamu mulai berinvestasi saham ya. Lalu apa sih sebenarnya Average Down dan Average Up itu? Langsung saja kita simak ya.

Average Down Dan Average Up, Jangan Beli Saham Full Modal

Average Down

Average Down yaitu menambah jumlah lembar saham di harga yang lebih rendah, artinya kita membeli lagi lembar saham ketika harga saham turun, sehingga harga beli kita (semula) akan dirata-rata dengan harga beli terbaru. Misal, kita membeli saham emiten ABCD dengan harga per lembar Rp 1000,- sejumlah 1 lot, ternyata setelah beberapa waktu harga sahamnya justru anjlok ke angka Rp 500,-, kemudian kita membeli lagi dengan jumlah lot yang sama di harga Rp 500,-. Maka, Average Price kita menjadi Rp 750,- dengan jumlah 2 lot. Perhitungan rata-rata ini sudah otomatis dikalkulasikan oleh sekuritas yang kamu gunakan ya, jadi tidak perlu bingung jika jumlah lot tidak sama, dan harga tidak bulat. Namun perlu diingat, Averaging Down juga tidak bisa sembarang kamu terapkan ya, tentunya kamu harus mengerti teknikal analisis untuk menemukan area support, yang artinya harga saham sudah berada di harga paling bawah yang berpotensi akan dipantulkan di area support. Mengapa? Karena percuma jika kita melakukan Averaging Down ketika ternyata harga sahamnya masih berpotensi turun. Sederhananya kita mencari titik maksimal penurunan harga saham, disitulah kita melakukan Averaging Down.

Average UP

Sedangkan untuk Average Up, merupakan kebalikan dari Average Down, yaitu kita menambah jumlah lembar saham atau membeli saham lagi ketika harganya naik. Karena kita membeli lagi di harga yang lebih tinggi, otomatis Average Price kita akan naik ya, jadi hati-hati, pastikan kita melakukan Averaging UP hanya ketika harga saham benar-benar dalam trend bullish atau naik dan dalam sentimen pasar yang bagus. Jangan sampai nih, kita melakukan Averaging Up dan Average Price kita sudah naik, namun harga saham justru kemudian mengalami penurunan atau anjlok.

Jadi, dalam melakukan Averaging Down maupun Averaging Up kita tetap harus memperhatikan pasar dari sisi teknikal maupun fundamental ya, sehingga hasilnya bisa maksimal, yang artinya kita akan mendapatkan Average Price terbaik yang nantinya mampu memberikan return yang maksimal.

Itulah sebabnya, kita perlu menyiasati modal investasi yang kita miliki ketika berinvestasi saham, apalagi untuk pemula wajib hukumnya untuk tidak membelanjakannya full modal. Konsepnya adalah, agar kita memiliki sisa modal untuk berjaga-jaga dan bisa kita gunakan untuk memperbaiki portofolio. Tentunya beda cerita jika kamu tergolong investor profesional dan agresif, yang sudah memiliki strategi sendiri yang memang terbukti bisa memberikan keuntungan.

Di beberapa sekuritas sudah tersemat fitur persentase pembelanjaan modal kita yang ada di saldo RDN, seperti di Ajaib Sekuritas, salah satu sekuritas kekinian yang sangat cocok digunakan untuk para investor pemula. Artinya, Ajaib Sekuritas sendiri secara tidak langsung mengajarkan usernya untuk tidak berbelanja full modal dengan adanya fitur persentase pembelanjaan modal dihalaman order.

Average Down Dan Average Up, Jangan Beli Saham Full Modal

Di halaman order saham Ajaib Sekuritas, kamu bisa langsung mengisi jumlah lot yang akan kamu beli, atau memilih persentase dari modal yang ada di saldo RDN kamu, 25%, 50%, 75%, atau 100%. Nantinya jumlah lot akan otomatis menyesuaikan. Sebagai informasi, Ajaib Sekuritas ini merupakan sekuritas kekinian yang cocok untuk pemula karena memiliki tampilan antarmuka (user interface) yang bagus namun sederhana dan mudah dipahami.

Average Down dan Average Up ini berbeda dengan Dollar Cost Averaging (DCA). DCA merupakan strategi tersendiri untuk situasi dan kondisi yang berbeda. Seperti apa penjelasan mengenai DCA ini akan ada di next konten ya, strategi DCA ini juga cukup bagus untuk diterapkan oleh mereka yang ingin berinvestasi saham namun memiliki penghasilan atau gaji yang minim, dan menjadi strategi yang dianjurkan oleh bapak investasi dunia Waren Buffett.

Nah, sekarang kamu sudah tau kan apa itu Average Down dan Average Up? Jangan beli saham full modal ya, untuk memastikan kamu tetap bisa berbuat sesuatu ketika harga saham bergerak diluar analisa dan perkiraanmu, bagi pemula ini sangat penting untuk diterapkan apalagi ketika berada di posisi floating loss yang cukup dalam, namun sebenarnya saham perusahaanya bagus dan memiliki potensi memberikan keuntungan yang bagus dalam jangka panjang.

Saham Gratis Ajaib Sekuritas

Ada yang ingin ditanyakan?